Previous
Next
Create your own banner at mybannermaker.com!

Wednesday, 8 February 2017

Rupture Disk dan Pressure Safety Valve (PSV) sebagai Pengaman Pipa dari Tekanan Berlebih

Rupture Disk dan Pressure Safety Valve (PSV) sebagai Pengaman Pipa dari Tekanan Berlebih

Rupture disk

Setiap pipa yang mengalirkan uap panasbumi mempunyai batasan tekanan aman tertentu, sehingga untuk menjaga dan mengamankan pipa dari peristiwa tekanan berlebih (over pressure) maka digunakan rupture disk. Rupture disk akan terbuka ketika terjadi tekanan di dalam pipa melebihi batas tekanan aman, rupture disk yang terbuka menyebabkan aliran uap keluar menuju lingkungan atau atmosfer dan berakibat pada turunnya tekanan di dalam pipa. Rupture disk hanya dapat digunakan dalam sekali pemakaian saja, karena komponen disk-nya akan pecah ketika rupture disk tebuka. Nilai ambang tekanan pada rupture disk biasanya adalah 1.2 dari nilai tekanan operasi.
rupture disk mengmankan pipa dari tekanan berlebih
sumber: instrumentationandcontroltoday.blogspot.com
rupture disk mengmankan pipa dari tekanan berlebih
sumber: monghaihen.blogspot.com


Pressure Safety Valve (PSV)

PSV Pressure safety valve mengamankan pipa dari tekanan berlebih
sumber: webwormcpt.blogspot.com
Pressure Safety Valve (PSV) merupakan sistem pengaman pipa selain rupture disk untuk menanggulangi tekanan berlebih di dalam pipa, bedanya adalah PSV dapat digunakan berulangkali saat kondisi masih bagus, karena PSV prinsipnya bekerja dengan menggunakan pegas. Pada pengaturan PSV, nilai batas tekanan alat saat beroperasi diatur pada nilai di bawah batas tekanan aman pipa. Saat tekanan di dalam pipa melebihi batas tekanan yang diatur pada PSV, maka aliran uap akan keluar menuju lingkungan dengan cara mendorong pegas hingga PSV dalam keadaan terbuka. Ketika tekanan di dalam pipa sudah di bawah batas tekanan pada pengaturan PSV, maka pegas akan menutup PSV pada posisi semula. Nilai ambang tekanan yang diatur pada PSV adalah 96% dari nilai tekanan ambang pada rupture disk. Pemasangan rupture disk dan PSV pada pipeline dapat dipasang secara seri maupun paralel. Keuntungan pemasangan secara seri pada PSV dan rupture disk adalah menjaga agar pegas pada PSV tidak terkena panas secara langsung yang dapat menyebabkan korosi.
PSV Pressure safety valve mengamankan pipa dari tekanan berlebih
sumber: ongengineering.blogspot.com



Tuesday, 7 February 2017

Sistem PLTS Utility Interactive System (On Grid) dan  Stand Alone (Hybrid atau Off Grid)

Sistem PLTS Utility Interactive System (On Grid) dan Stand Alone (Hybrid atau Off Grid)

Sistem PLTS merupakan singkatan dari sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Sistem ini bekerja membangkitkan daya listrik yang berasal dari energi radiasi sinar surya atau matahari. Sistem PLTS adalah sangat mungkin untuk diterapkan untuk wilayah di Indonesia dikarenakan potensi dari energi matahari di Indonesia yang tergolong besar, rata-rata energi matahari yang diterima Indonesia per harinya mencapai hingga 4,8 kW/m2/hari. Sistem PLTS bekerja dengan cara mengubah energi sinar matahari menjadi energi listrik dengan bantuan sel fotovoltaik. Sel fotovoltaik dirangkai denganbeberapa sel fotovoltaik lainnya hingga menghasilkan sejumlah energi listrik yang diinginkan. Dalam sistem PLTS, sel fotovoltaik tidaklah bekerja sendirian, terdapat komponen-komponen lainnya yang turut menunjang agar sistem PLTS menjadi sistem yang stabil. Komponen-komponen tersebut antara lain baterai, Battery Charge Regulator atau Battery Charge Controller, dan inverter.
PLTS Pembangkit Listrik tenaga surya on grid utility interactive system
sumber: diy1kwsolar.blogspot.com

Terdapat dua macam sistem PLTS, yaitu utility interactive system dan yang kedua adalah stand alone system. Kedua macam sistem PLTS tersebut memiliki ciri-ciri yang berbeda satu sama lain dan diterapkan untuk tujuan yang berbeda pula.
PLTS Pembangkit Listrik tenaga surya on grid utility interactive system
sumber: pinterest

Tipe pertama, utility interactive system atau sering disebut juga grid connected atau on-grid merupakan sistem PLTS yang terhubung dengan jaringan listrik lainnya (contohya PLN). Tipe ini ampun mencegah terjadinya  ketidakstabilan pada sistem PLTS, karena kemungkinan sinar matahari yang diterima oleh sel fotovoltaik tidak memenuhi batas minimum operasi, maka agar kebutuhan listrik tetap terpenuhi, sistem PLTS dapat memenuhi kebutuhan lewat jaringan listrik yang terhubung tersebut. Namun jika kemungkinan yang terjadi adalah sebaliknya, maka kelebihan listrik dari sistem PLTS ini akan dipasok dan dijual ke pihak pemilik jaringan listrik yang terhubung.
PLTS pembangkit listrik tenaga surya stand alone off grid hybrid system
sumber: greenenergyholding.blogspot.com

Tipe yang kedua adalah stand alone system, yang berarti secara terjemahannnya adalah sistem PLTS yang berdiri sendiri. Sistem ini tidak terhubung dengan jaringan listrik PLN, tetapi kemungkinan bekerja berdampingan dengan instalasi pembangkit daya lainnya. Sistem PLTS yang bekerja berdampingan dengan pembangkit lainnya disebut dengan hybrid system. Sistem PLTS dalam hybrid system tidak saling mempengaruhi satu dengan yang lain, karena sistem ini termasuk stand alone system. Tujuan dari hybrid system sebenarnya adalah sama dengan utility interactive system agar keseimbangan dalam pembangkitan daya terjaga.

Referensi
“Statistik Ekonomi energy Indonesia2004”. Pusat Informasi Energi Dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, 2004.
Roger A. Messenger, Jerry Ventre. Photovoltaic systems engineering. CRC Press, Boca Raton – Florida, 2004.

http://www.fsec.ucf.edu-en-consumersolar/electricity/basics-types-of-pv.htm

Monday, 6 February 2017

Apa Saja Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kebutuhan Energi Listrik

Apa Saja Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kebutuhan Energi Listrik

Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kebutuhan energi listrik penting untuk dijadikan pertimbangan dalam menentukan rencana penyusunan kebijakan terkait kebutuhan dan ketersediaan energi listrik. Prediksi penggunaan energi listrik cenderung mengalami kenaikan tiap tahunnya. Pola kenaikan yang terjadi ini tak lain adalah karena terus berkembangnya beragam kebutuhan manusia yang harus dipenuhi. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kebutuhan energi listrik ini, antara lain: faktor kependudukan, ekonomi, wilayah dan faktor-faktor lainnya. Penjelasan mengenai beberapa faktor tersebut adalah sebagai berikut

sumber: monsterologist.blogspot.com

1.       Faktor kependudukan
Faktor kependudukan erat kaitannya dengan pertumbuhan penduduk suatu daerah, merupakan faktor yang memiliki pengaruh besar pada tingkat kebutuhan energi listrik.
2.       Faktor ekonomi
Faktor ekonomi yang berngaruh adalah adanya pertumbuhan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto).
3.       Faktor wilayah
Faktor wilayah dipengaruhi oleh tingkat perekonomian dari wilayah itu sendiri. Faktor ekonomi secara langsung berpengaruh terhadap tingkat kebutuhan energi listrik seiring dengan berjalannya pembangunan wilayah. Dalam hal ini pemerintah daerah berwenang untuk melakukan perencanaan penyusunan terkait ketersediaan energi listrik berupa pembuatan aturan kebijakan dan secara langsung eksekusi dari rencana pembangunan.
4.       Faktor lain-lain
Faktor yang tidak termasuk dari tiga faktor di atas
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kebutuhan Energi Listrik
sumber: crash-watcher.blogspot.com


Referensi

Laporan Akhir Review Penyusunan Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah (RUKD) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun Anggaran 2008. Laporan Penelitian, RUKD, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Bidang Pertambangan dan Energi Pemerintah Propinsi DIY,
Yogyakarta, 2008.
Pengertian Debit dan Metode Pengukuran Debit

Pengertian Debit dan Metode Pengukuran Debit

Pengertian debit
Debit atau discharge atau flow rate sungai adalah sejumlah volume air yang mengalir melalui suatu penampang melintang pada suatu titik tertentu per satuan waktu, pada umumnya dinyatakan dalam satuan m3/detik. Debit  sungai  diperoleh  setelah  mengukur  kecepatan  air  dengan  alat  pengukur  atau pelampung  untuk  mengetahui  data  kecepatan  aliran  sungai  dan  kemudian mengalirkannya  dengan  luas  melintang  (luas  potongan  lintang  sungai)  pada  lokasi pengukuran kecepatan tersebut (Sosrodarsono dan Tominaga, 1984).
Rumus  umum yang biasa digunakan adalah:
Q= v x A
Keterangan:
Q = Debit aliran sungai (m3/detik)
A = Luas bagian penampang basah atau wetted perimeter (m2)
v = Kecepatan aliran (m/detik)
 
Pengukuran debit metode pengukuran debit penampang melintang sungai
sumber: water.usggs.gov
Metode pengukuran debit secara langsung
Menurut Sastrodarsono dan Takeda (1999), cara pengukuran debit secara langsung adalah dengan  cara  menghitung  debit  dengan  pengukuran  kecepatan  dan  luas  penampang melintang (velocity area method)  yang  paling  sering  digunakan  adalah  metode  pelampung (floating method). Cara  ini  paling sering digunakan dikarenakan tidak dipengaruhi oleh adanya kotoran atau kayu-kayuan yang hanyut selain itu karena mudah  dilaksanakan. Rumus yang digunakan, sebagai berikut:
v= L/t
Keterangan:
v : kecepatan aliran (m/s)
L : jarak tempuh pelampung (m)
t : waktu tempuh (detik)

pengukuran debit sungai
sumber: riverkennet.blogspot.com

Pengukuran  kecepatan  aliran  dengan  menggunakan  pelampung  dapat dilakukan  apabila  dikehendaki  besaran kecepatan  aliran  dengan tingkat ketelitian  yang relatif rendah. Cara ini masih dapat digunakan untuk praktik dalam keadaan:
a.         untuk memperoleh gambaran kasar tentang kecepatan aliran,
b.         karena  kondisi  saluran yang  sangat  sulit  diukur,  misal  dalam  keadaan  banjir, sehingga dapat membahayakan petugas pengukur.

Sebagai catatan distribusi kecepatan aliran di dalam alur adalah tidak sama untuk arah horisontal maupun arah vertikal. Dengan kata lain kecepatan aliran pada tepi alur tidak sama dengan tengah alur, dan kecepatan aliran dekat permukaan air tidak sama dengan kecepatan pada dasar alur. Sehingga pengukuran dengan cara pelampung hanya akan mendapatkan kecepatan arus pada permukaan, sehingga untuk memperoleh kecepatan rerata pada penampang saluran hasil hitungan perlu dikoreksi dengan koefisien antara 0.85-0.95. Selain itu, pengukuran dengan cara ini harus dilakukan beberapa kali karena distribusi aliran permukaan yang terjadi tidak merata.

Referensi
Suyono Sosrodarsono dan Masateru Tominaga. 1984. Perbaikan dan Pengaturan Sungai, terj. Yusuf Gayo, dkk. Jakarta: PT. Pradnya Paramita.
Asdak  Chay  (1995).  Hidrologi  dan  Pengeloaan  daerah  Aliran  Sungai.  Yogyakarta:
Gadjah Mada Press.
Sastrodarsono  Suyono  dan  Kensaku  Takeda,  (1999),  Hidrologi  untuk  Pengairan.
Pradnya Paramitha. Bandung.
Pramana, S.--. “Pengukuran debit aliran”. Available from url:  http://sanggapramana.word press.com/category/ pengukuran-debit-aliran/
Haestad Methods. (2002), Computer Applications in Hydraulic Engineering – Connecting Theory to Practice, Haestad Methods, Waterbury, Connecticut
Sri Harto Br, 1993.”Analisis Hidrologi”.PT. Gramedia, Jakarta


Sunday, 5 February 2017

Pemilihan Jenis Sensor Tekanan untuk Pengukuran Level pada Steam Drum

Pemilihan Jenis Sensor Tekanan untuk Pengukuran Level pada Steam Drum

Pemilihan jenis sensor tekanan untuk pengukuran level pada steam drum terutama didasarkan pada persyaratan lingkungan dan tujuan. Seorang desainer akan mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai aplikasi di masa depan dari instrumen pengukuran, semua kemungkinan tentang kondisi operasi, faktor lingkungan, serta spesifikasi dari alat ukur terkait kualitas, dimensi fisik dan biaya. Untuk kasus steam drum, maka tujuan pengukuran adalah untuk mengubah informasi level ke informasi listrik atau sinyal listrik yang kemudian dapat diproses oleh pengendali untuk menjaga level agar tetap pada nilai yang diinginkan (set point). Kondisi lingkungan dari steam drum sendiri yang fungsinya adalah sebagai pemisah antara fase uap dan fase cair mensyaratkan sistem pengukuran yang tahan terhadap suhu tinggi jika digunakan sensor yang kontak langsung. Pilihan yang cocok untuk kondisi dan tujuan sesuai dengan kondisi operasi tersebut adalah dengan sensor tekanan hidrostatis. Karena pada saat pendidihan air dalam steam drum, steam menghasilkan produk berupa gelembung-gelembung uap yang terbentuk di antara uap dengan leve cairan. Gelembung-gelembung uap tersebut memiliki volume dan karenanya dapat memunculkan kekeliruan mengenai level cairan yang sebenarnya yang ada di dalam drum. Pengaruh lainnya yang terjadi adalah perubahan tekanan di dalam drum. Karena gelembung-gelembung uap dipengaruhi oleh tekanan (jika perubahan tekanan akibat dari permintaan uap), pada kondisi masing-masing gelembung-gelembung uap akan mengembang atau menyusut terhadap perubahan tekanan tersebut. Sehingga kondisi tersebut tidak mungkin menggunakan sensor akustik yang memanfaatkan gelombang suara karena media penghantarnya yang berupa udara atau uap air yang mengalami fluktuasi selama perambatan hingga sampai ke permukaan, dan tentunya akan menimbulkan kesalahan yang tinggi.
Pemilihan Jenis Sensor Tekanan untuk Pengukuran Level pada Steam Drum
sumber: myalucadster.blogspot.com


Pemilihan Jenis Sensor Tekanan untuk Pengukuran Level pada Steam Drum
sumber: indrianaptmuns.blogspot.com

Permintaan uap yang tinggi akan mengakibatkan tekanan di dalam steam drum menurun, akibatnya gelembung-gelembung uap akan mengembang untuk menampilkan level cairan tinggi padahal sebenarnya tidak (sebenarnya level cairan rendah). Fiksi dari tingginya level cairan ini meyebabkan masukan umpan cairan untuk shut down, padahal pada saat terjadi hal tersebut, suplai air justru sangat dibutuhkan. Peningkatan level cairan hasil dari penurunan tekanan disebut ‘swell’, dan sebaliknya penurunan level cairan yang disebabkan oleh peningkatan tekanan disebut ‘shrink. Penggunaan sensor tekanan yang mengukur tekanan relatif  yang sebanding dengan level atau kedalaman dari cairan di dalam steam drum juga mampu mengubah informasi level pada kondisi cairan condensate menjadi sinyal listrik. Selain itu fluktuasi dari uap di permukaan tentunya tidak akan berpengaruh pada besaran tekanan atau alat ukur dari sensor tekanan karena sensor diletakkan pada bagian bawah steam drum.
Pemilihan Jenis Sensor Tekanan untuk Pengukuran Level pada Steam Drum
sumber: frandhoni.blogspot.com


Referensi

http://chekaproject.wordpress.com/2011/01/26/three-element-level-control-pada-boiler-steam-drum/#comment-48

Regtien, P. P. L., Selection of Sensors.University of Twente, Enschende, The Netherlands
Macam-macam Turbin Berdasarkan Prinsip Kerjanya

Macam-macam Turbin Berdasarkan Prinsip Kerjanya


Macam-macam turbin berdasarkan prinsip kerjanya sesuai kebanyakan manufaktur dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu: (1) impuls, (2) reaksi, dan (3) kombinasi impuls reaksi. Tegasnya, namun, semua turbin tergantung lebih atau kurang hanya pada keduanya baik impuls dan reaksi untuk operasinya.

Turbin impuls: Energi potensial yang terdapat pada uapnya dikonversi menjadi energi kinetik di dalam nosel atau laluan yang dibentuk oleh sudu-sudu diam yang saling berdekatan, dan di dalam sudu-sudu gerak, kemudian energi kinetik uap dikonversi menjadi energi mekanik.

Turbin impuls dan reaksi
sumber: mytech2u.blogspot.com
Turbin reaksi: Pada umumnya hanya sebagai turbin bertingkat saja. Turbin reaksi mengalami ekspansi baik pada sudu pengarah maupun pada sudu gerak sehingga mengerahkan dorongan pada sudu pada arah aksial. Untuk mengurangi dorongan aksial ini, adalah dengan memasang sudu-sudu gerak pada drum yang juga berfungsi sebagai rotor. Sudu-sudu pengarah dipasang pada stator turbin.
turbin reaksi
sumber: idahospudsblog.blogspot.com


Turbin kombinasi impuls-reaksi: Adalah jenis turbin terbanyak yang dipakai, teridiri dari tingkat pertama yang bekerja pada prinsip impuls (tingkat Curtis) yang selanjutnya diikuti oleh sejumlah tingkat reaksi. Tingkat pertama itu dapat berupa gabungan kecepatan baris-tunggal ataupun banyak baris. Pemakaian tingkat impuls (pengatur) dengan tingkat kecepatan memungkinkan untuk memanfaatkan penurunan kalor yang besar pada nosel dan oleh sebab itu membantu dalam mendapatkan temperatur dan tekanan yang lebih rendah pada tingkat selanjutnya yaitu tingkat reaksi. Pemakaian tingkat impuls, yang beroperasi dengan penurunan kalor sebesar 40 sampai 60 kkal/kg atau lebih, memungkinkan untuk mengurangi jumlah tingkat reaksi. Jadi turbin gabungan impuls reaksi adalah sederhana pada konstruksinya dan lebih mudah pembuatannya. Selain itu, turbin juga dapat diklasifikasikan berdasarkan maksud layanannya, arah uap mengalir, dan metode transmisi (driving method)


Ref: Shlyakin, P.. 1990. TURBIN UAP: Teori dan Rancangan. Jakarta: Erlangga.
Steam Power Plant Engineering
Apa Saja Macam-macam Radiasi Berdasarkan Konsep Materi

Apa Saja Macam-macam Radiasi Berdasarkan Konsep Materi

Macam-macam radiasi berdasarkan konsep materi (massa dan volume serta muatan) dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu:

Spektrum Gelombang Elektromagnetik
sumber: chamillaschemistryadventure.blogspot.com

1. Radiasi yang berasal dari partikel bermuatan
Radiasi ini berupa partikel yang memiliki massa, volume, dan bermuatan listrik.  Misalnya adalah Sinar alfa dan proton. Sifat dari radiasi jenis ini adalah semakin besar massanya maka akan semakin kecil daya tembusnya terhadap materi. Sifat lain yang dimiliki oleh radiasi jenis ini adalah mudah ditahan oleh lapisan penahan misalnya berupa timbal, beton, plastik, parafin dan air

2. Radiasi yang berasal dari neutron
Radiasi jenis ini berupa neutron yang memiliki massa, volume, tetapi tidak bermuatan.  Contohnya adalah neutron fisi (pembangkit listrik tenaga nuklir)  dan neutron fusi (ruang angkasa)Sifat yang dimiliki oleh radiasi jenis ini adalah: massanya yang sangat kecil menyebabkan radiasi memiliki daya tembus yang kuat, lapisan penahan tidak mampu menahan karena volumenya yang sangat kecil, umur radiasinya sangat pendek (hanya dalam beberapa detik saja), semakin besar energinya semakin besar daya tembusnya
nuklir fisi dan fusi
sumber: voightproject.blogspot.com


3. Radiasi yang berasal dari gelombang elektromagnetik

Radiasi jenis ini adalah berupa gelombang elektromagnetik yang dianggap tidak memiliki massa dan volume.  Radiasi jenis ini memiliki dua komponen utama yaitu: medan magnet dan medan listrik. Contohnya adalah gelombang radio, cahaya, sinar-X dan sinar gamma. Beberapa sifat yang dimiliki oleh radiasi jenis ini adalah: semakin tinggi frekuensinya maka semakin besar daya tembusnya terhadap materi, mudah ditahan oleh lapisan yang memiliki sifat berupa sangkar faraday, gelombang dengan frekuensi di atas frekuensi sinar tampak dapat menyebabkan ionisasi.
bahaya radiasi
sumber: radiation-risks.blogspot.com